Sunday, 27 August 2023

 APA ITU PERBENDAHARAAN TERSEMBUNYI ALLAH


"Allah Perbendaharaan Tersembunyi"

Kenapa Dia perlu "Sembunyikan" perbendaharaan tersebut ??


Bismillah - Allah memberi kita akal agar para hamba-hamba yang mempunyai "mata hati" supaya memikirkannya mengapa ia perlu "disembunyikan" dari makhluk-Nya?


(Cuba difikirkan sejenak kenapa?)


Jawapan : Dia ingin 'menguji' di antara para hamba-Nya - Siapakah yang paling "Berkehendak" kepada "Perbendaharaan Tersembunyi" tu? Lalu bila adanya 'hasrat' kepada-Nya iaitu perbendaharaan tersebut maka kita akan mencari jalan untuk memperolehinya dengan menuju atas Jalan-Jalan-Nya. (Tasawuf Sufi)


Masalah hari ini kita kurang "bernafsu" Kepada-Nya - Allah meletakkan batasan-batasan makam ketinggian diri seseorang itu dengan menggunakan ayat NAFSU? 


Nafsu Ammarah yang paling rendah tercela - dan Nafsu Kamil adalah yang paling tertinggi dan termulia 


Tetapi mengapa Allah SWT tidak meletakkan atau menggantikan ayat NAFSU kepada MAQAM sahaja? Tetapi Dia menggunakkan ayat Nafsu? Ada apa pada nafsu yang selalu dikaitkan dengan hal hal yang tidak baik itu? Tetapi Allah menggunapakaikan akan ayat Nafsu itu - apa rahsianya?


Jawapannya adalah :  Nafsu itu boleh digunapakai sebagai Alat Menuju Allah (membawa diri ke arah ILLAHIAH Ketuhanan) - 


Nafsu Ammarah Tercela akan mendorong jiwa kepada kejahatan - tetapi jika Makhluk Nafsu itu mampu dikendalikan dengan baik sempurna - dijinakkan dari Kiblat Kesyaitanan (dorongan bermaksiat membelakangi Tuhan) lalu KeKiblatan Kesyaitanan NAFSU tersebut itu di "Talakan" ke arah Kiblat Kemalaikatan - iaitu sifat Ketaatan (Dorongan kepada arah Kebaikan dengan mengadap-Nya dalam "Bernafsu" dgn ketaatan ibadah yang tampa rasa jemu & lelah!)


Contoh mudah # Mengapakah pasangan suami isteri tiada rasa jemu kepada hubungan intim di dlm kelambu? Jawapannya kerana Nafsunya "berkehendak" kepada hal tersebut - ertinya penuh "bernafsu" kepada hal tersebut.


Jadi itulah "Jentera" Para Wali-Wali silam di dalam melakukan "ketaatan" kepada Allah SWT - atas kerana mereka menggunakan "JENTERA NAFSU" yang dihiasi pada diri insan tersebut ke arah kebaikan (kuda Nafsu ditunggangi bagi urusan Ketuhanan - Ibadah) 


- mereka para Wali silam mampu melakukan Ibadah Sunat Tahajud hingga beratus Rakaat di malam hari atas kerana "Faktor" exploitasi Nafsu diri ke arah Kebaikan (bagi ketaatan) - mereka bersolat kepada Allah seolah-olah "dirasakan" seperti ingin pergi melakukan (maaf cakap) "hubungan intim" - Bergitu bernafsu dan bersemangat untuk melaksanakan Ibadah Solat tersebut - Semakin lama bersolat semakin bertambah rakaan solat - maka semakin "nikmat" dirasakan di dalam pengabdian mereka melakukan Solat tersebut beratus rakaat yang tidak mampu kita laksanakan pada zaman ini - padahal kekuatan tubuh kita adalah sama kuat dengan Para Sahabat dan genarasi selepas mereka (Tabien/Salaf) - 


Persoalannya "mengapa" mereka boleh? Tetapi kita tidak mampu?


Jawapannya seperti mana yang dinyatakan di atas ini - Nafsu mereka telah diluruskan kepada sesuatu yang lebih Haq iaitu "ditungganinya" nafsu diri mereka kepada hal-hal Ketuhanan (ibadah) - sedangkan kita umat di akhir zaman di zaman ini telah menggunakan Nafsu pada kiblat yang kurang tepat - Kita "menunggani" Nafsu diri bagi "kepuasan Batin" diri semata (seks intim) tetapi malangnya di saat mahu melakukan Ibadah kepada Allah baik ibadah Fardhu mahupun Sunat - kita "rasakan" ibadah yang ingin dilaksanakan "dirasa" TAWAR - jika dibandingkan saat "ingin" melakukan hubungan Intim suami isteri (sangat bernafsu) - Tetapi untuk Allah SWT - kita tidak 'bernafsu' untuk melaksanakannya dengan penuh jiwa raga - Kalau dikerjakanpun bagaikan melepas batuk ditangga - buat acuh tak acuh bagaikan Robot yang "dipaksa" Bekerja untuk ALLAH AZZA WAJALLA (Solat wajib dan Sunat - Taklik bagaikan terpaksa - Tiada iklas sebenarnya) - 


maka ibadah yang seperti di atas ini - Rasa Khusyuknya kurang jika dibandingkan dengan Solatnya Para Sahabat dan Wali-Wali Silam yang melaksanakan Ibadah UNTUK ALLAH AZZA WAJALLA dengan penuh "nikmat" - berjam-jam lamanya dia bersujud - dirasakan nikmatnya bagaikan sedang berdakapan dengan ALLAH AZZA WAJALLA dengan penuh bernafsu - kepada yang "Dicintainya" iaitu Allah SWT - 


Maka tidak hairanlah mengapakah ibadah generasi silam jauh lebih hebat lebih "Kusyuk" dan lebih "Iklas" dilaksanakan kepada Allah SWT jika dibandingkan ketaatan kita yang bagaikan ROBOT PAKSAAN - dilakukan kerana Takutkan Azab-Nya tetapi bukanlah dilaksanakan Ibadah tersebut dengan penuh Kenikmatan seolah sedang berhubungan 'intim' dengan Allah SWT - 


Itulah Rahsianya mengapakah ada para sahabat yang dipanah kakinya ketika sedang melaksanakan solat namun kesakitannya tidak lagi dirasakan bilamana ada hal "lain" yang lebih mengasyikkannya ketika di dalam solat tersebut. khusyuk solat atas kerana "merasai nikmat" ibadah - manisnya iman 


Yang nyatakan ini sekadar renungan semata - mudahan kalian ahlul ibadah dan yang mempunyai hati supaya mencari "jalan" untuk menerbitkan "Nafsu Syawat" batin yang telah "DITALAKAN" bagi tujuan Akhirat iaitu di saat menunaikan Ibadah kepada Allah SWT - Kunci Khusyuk dan Iklas di dalam ibadah.


Pada saat ini Nafsu diri kita masih di makam Ammarah - suatu Nafsu yang cenderong kearah "kepuasan diri" semata (kesyaitanan - syawat kepada perhubungan batin tetapi bukan Syawat dalam Ibadah - salah guna Nafsu) - 


Sedangkan Nafsu yang lebih tinggi itu (Insanul Kamil) - Nafsu Syawatnya lebih terdorong kepada hal hal menuju ALLAH dengan melaksanakan Ibadah yang tidak kenal letih jemu dan rasa 'TAWAR' kepada-Nya 


Para Wali-Wali silam sangat bernafsu di saat ingin mengerjakan Solat - iaitu Pintu Masuk menemui Allah SWT - ia bagaikan Mekraj di angkat kelangit. Namun adakah patut seorang ahli ibadah itu mengerjakan Solat di dalam 'rasa' yang TAWAR padahal dia ingin bertemu tuhan - ingin membuat hubungan 'intim' dengan ALLAH - patutkah dia mengerjakan Solat tersebut bagaikan "sebuah Robot" yang telah "disetkan" untuk menunaikan Ibadah tersebut tetapi di dalam hatinya - tiada "bernafsu" melaksanakannya ibadah tersebut kepada Allah SWT.


Kunci untuk "melahirkan" Rasa bernafsu Syawat dalam melaksanakan Ibadah Solat itu kuncinya adalah mendapatkan "Kecintaan" dari Allah SWT terlebih dahulu - Jika tiada rasa Cinta - maka "Perhubungan" seorang Salik dengan ALLAH dirasakan "Tajar" - tiada Nafsu di saat mengerjakan ketaatan tersebut. bagaikan kamu mengahwini seorang yang kamu "benci" tiada cinta di hati - benci itu puncanya rasa "Cinta" mati - maka tiadalah timbulnya Nafsu Syawat dlm ibadah jika tiada wujudnya rasa "Cinta" terlebih dahulu dari Diri-Nya.


"Cinta Kepada Allah SWT itu Adalah KUNCI kepada PERBENDAHARAAN TERSEMBUNYI yang sengaja Allah biarkan kalian "mencarinya" -


Siapa yang mencari ALLAH- 

Maka Allahpun mencari Dirinya di dalam Kerahsiaan-Nya - Wallahu'alam


ANTARA IMAN DAN HAWA NAFSU


Berkata Imam Hasan al-Basri رحمه الله تعالى :


«من لم يكن كلامه حكمة فهو لغو، ومن لم يكن سكوته تفكّرا فهو سهو، ومن لم يكن نظره اعتبارا فهو لهو»


" Sesiapa yang kata-katanya tiada hikmah maka dia sedang berkata hal sia-sia, sesiapa yang senyapnya tanpa tafakur maka ianya adalah membuang masa, sesiapa yang pada penglihatannya tiada ibrah maka ianya adalah (pandangan) hawa nafsu."


[ Dinaqal oleh Imam Ghazali رحمه الله تعالى dalam kitab Ihya' 'Ulumuddin ]

No comments:

Post a Comment

  ☆Tadabbur Kalamullah 19 Rabiul Akhir 1447H☆ هَـٰۤأَنتُمۡ هَـٰۤؤُلَاۤءِ حَـٰجَجۡتُمۡ فِیمَا لَكُم بِهِۦ عِلۡمࣱ فَلِمَ تُحَاۤجُّونَ فِیمَا...